• SHARE
Dulu "Saya Rindu Didemo Warga". Tapi Kok Sekarang Malah Nggak Boleh Demo

Mengingat apa pernah beliau sampaikan beberapa tahun silam, rasanya bang Bob ingin ketawa sendiri. Lucu aja gengs. Dulu beliau yang meminta untuk didemo karena pemerintah juga perlu dikontrol. Tapi kini beliau sendiri yang mengeluarkan statemen yang berarti jangan demo tapi tempuh jalur hukum

Akhir-akhir ini kondisi perpolitikan di Indonesia memang terbilang lumayan panas. Apa lagi setelah keluarnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang tentang organisasi masyarakat (ormas). Semakin hari tampak semakin runcing saja antara pemerintah dengan masyarakat yang kontra dengan kebijakan tersebut.

Setelah ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) resmi dibubarkan beberapa waktu yang lalu, massa yang merupakan alumni aksi 212 kembali melaksanakan kegiatan dengan diberi nama aksi 287. Aksi 287 dilaksanak usai melaksanakan sholat Jum'at di Masjid Istiqlal.

Para peserta yang menghadiri aksi damai ini ternyata tidak hanya berasal dari daerah Ibu Kota saja. Dan yang menariknya, mereka yang dari luar kota sudah berada di Masjid Istiqlal. Meskipun hanya dihadiri kurang lebih 5000 peserta, namun menurut bang Bob tidak kalah meriah dengan aksi-aksi yang telah terselenggara dengan sebelumnya. Dan sudah pasti, aksi damai ini berjalan dengan sangat lancar, tanpa adanya kejadian yang tidak di inginkan.

Tidak menggunakan sepeda motor, rute perjalanan para peserta aksi dimulai dengan berjalan kaki dari Masjid Istiqlal menuju ke Patung Kuda. Kemudian para peserta melintasi Jalan Medan Merdeka Timur hingga ke Merdeka Selatan.

Menanggapi aksi damai yang dilakukan oleh alumni aksi 212, Presiden Joko Widodo enggan memberikan komentar. Namun beliau selaku kepala negara, menganjurkan kepada siapa saja yang tidak setuju dengan dikeluarkannya perpu ini untuk menempuh jalur hukum.

Dikutip dari situs merdeka.com, Presiden Jokowi berkata," Jika ada yang tidak setuju, silahkan untuk menempuh jalur hukum. Prosedurnya sudah siap. Kan negara ini juga negara hukum, saya kira dipersilahkan."

Inti dari perkataan orang nomor satu di Indonesia ini adalah jika ada yang tidak setuju nggak perlu pakai acara demo segala, silahkan tempuh jalur hukum. 

Jika kita kembali ke masa awal kepemimpinannya, Presiden Joko Widodo pernah mengeluarkan statemen bahwa beliau rindu akan didemo. Seperti dikutip kembali dari situs merdeka.com, Pak Jokowi menyampaikan bahwa 
" Saya kangen sebetulnya didemo. Karena apa? Apapun... Apapun... Pemerintah itu perlu dikontrol. Pemerintah itu per ada yang peringatin kalo keliru. Jadi kalau enggak ada demo itu keliru. jadi sekarang saya sering ngomong di amna-mana 'TOLONG SAYA DIDEMO'. Pasti saya suruh masuk."
Pernyataan di atas pernah beliau sampaikan dalam acara Indonesian Young Changemaker Summit (IYCS) pada 18 Juli 2012 lalu, saat itu adalah ketika beliau masih menjadi Wali Kota Solo.

Mengingat apa pernah beliau sampaikan beberapa tahun silam, rasanya bang Bob ingin ketawa sendiri. Lucu aja gengs. Dulu beliau yang meminta untuk didemo karena pemerintah juga perlu dikontrol. Tapi kini beliau sendiri yang mengeluarkan statemen yang berarti jangan demo tapi tempuh jalur hukum.

Bukankah negara kita ini negara "DEMOKRASI" ? Semua masyarakat, bebas untuk menyampaikan aspirasinya asalkan sesuai dengan aturan yang berlaku. 

Bukankah aksi yang dilakukan kali ini juga sudah sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku ? Jika tidak, mana mungkin para peserta bisa bebas konvoi berjalan kaki dari Masjid Istiqlah hingga ke Jalan Merdeka Timur ?

Nah loh, jadi kalau masyarakat tidak boleh melaksanakan aksi demo di negara yang menganut sistem demokrasi, terus masyarakat harus bagaimana kalau ingin menyampaikan aspirasinya ?

Artikel ini dibuat tanpa adanya maksud untuk menjelek-jelekkan Pak Jokowi, hanya saja bang Bob heran dan bertanya-tanya kenapa Pak Presiden sekarang statemennya seperti itu.

Kalau menurut kalian bagaimana gengs ?
Share To:

Bob Agoy

Bang Bob cuma seorang pria yang suka pura-pura selow kalau do'i cuma nge-Read doang.

Post A Comment: